Kegagalan Kaum Tradisionalis & Pembenaran terhadap Kaum Pluralis 

168594_kerusuhan-bernuansa-sara-di-desa-karanggayam-omben-sampang-jatim_663_382Membaca konflik sampang antara kelompok sunni dengan kelompok Syi’ah kita akan di ajak berspekulasi untuk menghasilkan kesimpulan yang mendekati kebenaran. Mungkin kita akan disuguhi kesimpulan yang berbeda-beda tergantung sudut pandang mana fenomena sampang di teropong. Kaum agamawan mungkin berbeda dengan pengamat social, demikian juga dengan yang lainnya termasuk saya.

Ada yang berpendapat bahwa pertikaian di sampang di sebabkan kelompok syiah yang memcaci maki sahabat nabi sehingga membuat kelompok sunni marah. Ada yang mengatakan kasus di sampang murni persoalan pribadi antar dua bersaudara yang memperebutkan sang bidadari, maka atas nama agama masyarakat sampang dikelabui. Ada yang mengatakan persoalan sampang merupakan perebutan pengaruh antar kiai. Maka jadilah Fenomena sampang bak cerita syaikh Siti Jenar ketika diadili para wali songo. Semua asumsi di atas bisa saja benar dan bisa saja salah. Dan saya sebagai putra madura asli juga mempunyai anggapan yang berbeda dan orang lain juga bisa berbeda dengan anggapan saya.

Kasus syi’ah di sampang (terlepas apakah syiah sesat atau tidak saya tidak punya otoritas untuk menilainya, biarkan MUI dan para ulama yang memberikan lebel sesat atau tidaknya) isunya begitu mem-booming sehingga mewarnai media dengan beragam “Tendensi”. Saya disini hanya mencoba mengurai kemungkinan-kemungkinan apa saja yang menyebabkan kasus sampang begitu me-nasional, padahal  fenomena semacam ini bukan satu-satunya yang pernah terjadi di madura, hanya saja mungkin persoalan selama ini bukan persoalan Syi’ah. Tengoklah seperti kasus carok massal (misalnya) yang menelan banyak korban, tepatnya di pamekasan dekat dengan rumah saya, tapi isunya tidak di blow up seperti di sampang, atau penganiayaan terhadap Jamaah Tabligh dan lain sebagainya.  Lalu Ada dengan syiah dan sampang?

Dulu, ketika saya masih remaja (sebenarnya sekarang juga masih remaja) saya di pesan oleh salah satu tokoh agama di kampung saya agar tidak berteman dengan pemuda Muhammadiyah. Ketika itu ada satu pemuda yang mengikuti organisasi Muhammadiyah dan mungkin dia adalah satu-satunya manusia di kampung saya yang bukan NU sehingga dia merasa asing dan merantau sampai sekarag. dia tidak lagi kembali ke kampong saya. Di daerah sumenep, ada seorang kawan yang menelpon saya hanya gara-gara ada kelompok wahabi yang hendak mendirikan masjid. Dia minta pendapat saya apakah mereka perlu dilarangnya, tentunya dengan mengerahkan massa untuk mendemonya. Dan sudah tidak bisa saya hitung berapa kali saya mendengar cerita-cerita orang Madura bahwa orang itu begini-orang itu begitu; hanya gara-gara cara sholatnya berbeda, jari-jarinya bergerak ketika membaca tasyahhud, tidak baca kunut, tidak pakai kopyah, dan lain sebagainya. Masyarakat Madura banyak yang tidak tahu mana yang Furu’iyah dan mana yang Ushuliyah. Namun biasanya kalau menyangkut persoalan agama mereka pasti bertanya pada para kiai. Lo kok di sampang…?

Pada waktu terjadinya Tragedi sampang (The Second War), tepatnya pasca Ramadhan,  ketika itu saya berada di kampung halaman dekat dengan tempat terjadinya komflik itu, yaitu desa Omben.  Waktu itu, sedikit banyak saya mendengar desas-desus berikut komentar para pengamat, mulai dari kiai kampung, akademisi, sampai para petani. Misalnya, dalam sebuah acara tahlilan, para tokoh-tokoh di kampung saya berbicara tentang syiah begini-begitu dan begitu-begini sampai saya merasa pusing dengan hujah-hujah mereka. Dari katanya ke katanya hingga kesimpulannya syiah adalah ajaran sesat. Kesimpulan ini berbeda dengan pendapat seorang guru di SMA swasta (saat itu saya sedang berkunjung ke salah satu sekolah di desa saya) bahwa katanya sunni dan kelompok syi’ah tidak ada bedanya, itu hanya permainan media. Dia berbicara bak cendekiawan yang sedang memberikan “Talk” di depan para guru dan saya. Lalu bagaimana dengan pendapat  para petani? Mereka berbeda pendapat alias tidak jelas kesimpulannya…..Bersambung. (tulisan lama)

About these ads